Batik Kita
Kata 'batik' tak asing di telinga rakyat Indonesia, bahkan negara tetangga juga mulai familiar dengan kata tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, kita patut berbangga karena batik kita telah menjelajahi daratan, mengarungi samudera, dan menjelajahi angkasa tanpa batas. Nama Indonesia harum dibuatnya.
Jika ditinjau lebih lanjut, yang dimaksud dengan batik itu sendiri adalah hasil karya yang dihasilkan dari proses menggambar pola di atas kain dengan menggunakan malam/lilin sebagai perintang warna. Lalu, batik printing itu bukan batik dong? Memang seharusnya batik printing tidak dikategorikan sebagai batik. Batik printing lebih layak disebut kain bermotif batik yang dicetak menggunakan mesin tekstil. Akan tetapi ada beberapa pihak yang menganggap batik printing sebagai batik.
Beralih ke fakta yang terjadi pada batik kita. Keberadaan batik menjadi sedikit terhimpit karena adanya kain motif batik yang murah dan diproduksi secara massal. Banyak masyarakat yang bangga memakai batik ke sekolah, kampus, kantor, pesta, tapi nyatanya yang dipakai adalah kain motif batik (termasuk saya). Sebenarnya dengan mengkonsumsi kain motif batik, kita bisa turut menghambat nadi dari batik kita. Bayangkan, jika ada 10.000.000 masyarakat Indonesia yang membeli masing-masing 1 kain motif batik, berarti kita mengabaikan 10.000.000 produksi batik yang muncul dari tangan perajin batik.
Sebisa mungkin sebagai rakyat Indonesia yang bangga dengan batik, kita harus berperan dalam memajukan industri batik. Salah satunya dengan menggunakan batik yang benar-benar batik, batik kita.
Jika ditinjau lebih lanjut, yang dimaksud dengan batik itu sendiri adalah hasil karya yang dihasilkan dari proses menggambar pola di atas kain dengan menggunakan malam/lilin sebagai perintang warna. Lalu, batik printing itu bukan batik dong? Memang seharusnya batik printing tidak dikategorikan sebagai batik. Batik printing lebih layak disebut kain bermotif batik yang dicetak menggunakan mesin tekstil. Akan tetapi ada beberapa pihak yang menganggap batik printing sebagai batik.
Beralih ke fakta yang terjadi pada batik kita. Keberadaan batik menjadi sedikit terhimpit karena adanya kain motif batik yang murah dan diproduksi secara massal. Banyak masyarakat yang bangga memakai batik ke sekolah, kampus, kantor, pesta, tapi nyatanya yang dipakai adalah kain motif batik (termasuk saya). Sebenarnya dengan mengkonsumsi kain motif batik, kita bisa turut menghambat nadi dari batik kita. Bayangkan, jika ada 10.000.000 masyarakat Indonesia yang membeli masing-masing 1 kain motif batik, berarti kita mengabaikan 10.000.000 produksi batik yang muncul dari tangan perajin batik.
Sebisa mungkin sebagai rakyat Indonesia yang bangga dengan batik, kita harus berperan dalam memajukan industri batik. Salah satunya dengan menggunakan batik yang benar-benar batik, batik kita.

0 comments:
Post a Comment