Wednesday, September 24, 2014

Akhir-akhir ini lagi musim segala sesuatu tentang green tea atau matcha. Mulai dari green tea asli, green tea latte, green tea dikasih topping, cookies, kue, sampai ice cream. Biar ikutan hits dan gaul ala anak nongkrong, gue mau ikutan konsumsi green tea tapi green tea latte. Alhasil waktu gue mampir di chat time, gue beli green tea latte. Rasanya cukup enak bagi gue, tapi menurut gue cukup mahal ya kalau setiap pengen minum green tea latte gue harus keluarin kocek 20 ribuan. Kalau seminggu pengen minum 4 kali, bisa keluar duit 80 ribu yang sebenernya bisa buat beli barang lain. Belum ditambah ongkos transportasi buat pergi ke tempat nongkrong yang jual green tea latte. Bisa bangkrut deh. Akhirnya, gue coba browsing tentang tempat-tempat yang jual green tea latte, seperti Fresh Papaya, Foodhall, dsb.

Gue coba ke Foodhall dan memang cukup banyak pilihan green tea yang ada. Mulai dari green tea latte instan, green tea celup, bubuk green tea. Berdasarkan pertimbangan harga (haha) gue akhirnya milih Korean Green Tea Latte. Kalau dilihat dari packagingnya, kayaknya green tea latte ini enak sih. Waktu gue nulis ini, gue bingung kenapa harus dinamain Korean green tea latte. Emang apa bedanya sama green tea Jepang. Anyone can tell me why?

Review tentang Korean Green Tea Latte ini bakalan gue share di blog ini. So, stay tune!

 Ini akhirnya yang gue beli

 Banyak jenisnya, tinggal pilih aja

Bubuk Green Tea yang belum ditambah krimer dan gula

 Green tea instan

Tunggu reviewnya ya, hits people!

Thursday, September 18, 2014

Kata 'batik' tak asing di telinga rakyat Indonesia, bahkan negara tetangga juga mulai familiar dengan kata tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, kita patut berbangga karena batik kita telah menjelajahi daratan, mengarungi samudera, dan menjelajahi angkasa tanpa batas. Nama Indonesia harum dibuatnya.

Jika ditinjau lebih lanjut, yang dimaksud dengan batik itu sendiri adalah hasil karya yang dihasilkan dari proses menggambar pola di atas kain dengan menggunakan malam/lilin sebagai perintang warna. Lalu, batik printing itu bukan batik dong? Memang seharusnya batik printing tidak dikategorikan sebagai batik. Batik printing lebih layak disebut kain bermotif batik yang dicetak menggunakan mesin tekstil. Akan tetapi ada beberapa pihak yang menganggap batik printing sebagai batik.

Beralih ke fakta yang terjadi pada batik kita. Keberadaan batik menjadi sedikit terhimpit karena adanya kain motif batik yang murah dan diproduksi secara massal. Banyak masyarakat yang bangga memakai batik ke sekolah, kampus, kantor, pesta, tapi nyatanya yang dipakai adalah kain motif batik (termasuk saya). Sebenarnya dengan mengkonsumsi kain motif batik, kita bisa turut menghambat nadi dari batik kita. Bayangkan, jika ada 10.000.000 masyarakat Indonesia yang membeli masing-masing 1 kain motif batik, berarti kita mengabaikan 10.000.000 produksi batik yang muncul dari tangan perajin batik.
Sebisa mungkin sebagai rakyat Indonesia yang bangga dengan batik, kita harus berperan dalam memajukan industri batik. Salah satunya dengan menggunakan batik yang benar-benar batik, batik kita.