Tuesday, October 4, 2011


Udah 19 tahun gue ngejalanin hari-hari gue. Hari-hari gue tentunya gak lepas dari peran serta Tuhan, orangtua, sama temen-temen gue. Metamorfosis terjadi sama gue baik dari perilaku, gaya, maupun cara berfoto gue. Menurut gue, metamorfosis yang terjadi sama gue itu oke banget. HAHA. Gue yang awalnya kayak Cinderella kecelup air pel, makin lama gue makin jadi kayak Upik Abu yang abis perawatan kecantikan di salon mahal.

Percaya gak percaya semua orang bisa kok ngelakuin metamorfosis diri. Pertama kali, lo harus mulai dari diri lo sendiri. Lo harus ningkatin self efficacy lo. Lo harus yakin kalo elo itu cantik, lo gifted, lo keren, lo supel, lo gak cupu. Nah kalo itu semua udah lo yakinin, tinggal lingkungan yang ngebantu elo.

Nah, gue mau cerita nih

Keputusan gue buat ngambil pendidikan SMA di Jogja itu BAGUS BANGET! Ditambah lagi gue tinggal di asrama, keputusan gue tadi tambah gak salah buat diambil. Anak-anak Jogja itu ramah-ramah gak kayak anak Bekasi yang rata-rata pada nyolot. Apalagi di sekolahan gue dulu.
Nah, balik ke kisah metamorfosis gue. Gue bisa bermetamorfosis juga gara-gara bantuan temen-temen gue, terutama temen asrama. Temen sekolah sama asrama bikin gue nyaman berada di lingkaran pertemanan ala Jogja. Karena nyaman, gue bisa mengekspresikan diri gue keluar. Gue gak jadi orang yang pendiem lagi kayak SMP. Gue bisa jadi diri gue sendiri waktu duduk di bangku SMA. Sebenernya, aslinya gue tuh cerewet, tapi lingkungan SMP gue gak mendukung gue buat ngeluarin sikap asli gue.
Metamorfosis gue yang lain adalah penampilan. Gue belajar buat perhatiin penampilan gue ya dari lingkungan di asrama. Contohnya waktu gue pengen pergi dengan bedak yang belepotan di wajah (maklum pake bedak tabur). Sebelum pergi, gue pamit dulu sama suster. Suster ngeliat bedak gue yang belepotan, trus nasehatin gue kalau mau pergi bedaknya harus rapi. Contoh lainnya gue belajar dandan ya sama temen-temen gue di asrama, terutama sama Sunita Bhagchandani dan Bernadeth Edvina Kristi. Big thanks for both of you!

Oke, sebelum gue nyandang predikat 'kepala dua' di tahun depan, gue mau ngasih foto-foto metamorfosis gue dari awal masuk SMA sampe kuliah.


#1SMA
awal-awal SMA. masih bau kencur abis lulus SMP

pertengahan kelas 1 SMA. zaman-zamannya photo box

akhir kelas 1 SMA bareng anak (kamar 4) asrama

#2SMA

awal-awal kelas 2 SMA. masih alay (foto dari atas, pake kacamata pink ngejreng)


pertengahan kelas 2 SMA. fake face abis kalo foto di zaman2 kelas 2

akhir kelas 2 SMA. abis penilaian seni tari

#3SMA
awal-awal kelas 3 SMA. foto buat CD kenangan asrama

pertengahan kelas 3 SMA. Miria Pradita's birthday

wisuda SMA. akhir masa SMA yang bahagia


#kuliah

awal-awal kuliah masih fresh from the oven. pake warna baju sama seangkatan


pertengahan kuliah jalan-jalan ke blitz


now !

Thursday, September 15, 2011

JOGJA! sejuta wanita di sekolah homogen!
JOGJA! sejuta tempat makan yg murah!
JOGJA! sejuta tempat keren buat foto!
JOGJA! sejuta tempat belanja murah!
JOGJA! sejuta perkembangan hidup!
JOGJA! sejuta penjahat kelamin!
JOGJA! sejuta cinta terpendam!
JOGJA! sejuta bapak becak!
JOGJA! sejuta pengalaman!
JOGJA! sejuta perasaan!
JOGJA! sejuta pelajar!
JOGJA! sejuta teman!
JOGJA! sejuta benci!
JOGJA! sejuta suku!
JOGJA! sejuta suka!
JOGJA! sejuta duka!
JOGJA! sejuta hadiah!
JOGJA! sejuta bimbel!
JOGJA! sejuta omelan!
JOGJA! sejuta budaya!
JOGJA! sejuta sahabat!
JOGJA! sejuta gebetan!
JOGJA! sejuta kebaikan!
JOGJA! sejuta laporan IPA!
JOGJA! sejuta kenalan baru!
JOGJA! sejuta makanan gratisan!
JOGJA! sejuta pertandingan basket!
JOGJA! sejuta pengalaman asrama!
JOGJA! sejuta musuh dalam selubung!

Tuesday, September 6, 2011

Akhir-akhir ini lagi ngetren kuis-kuis di facebook. Kuis-kuis itu datengnya dari produk-produk makanan, minuman, alat tulis, dan banyak lagi yang lain. Gue sebagai orang yang suka browsing, gak mau ketinggalan ikut kuis-kuis kayak gitu. Hadiahnya juga berhasil bikin gue ngiler sampe banjir, trus lantainya jadi lengket menye menye gitu. Mulai hadiah iPad, iPhone, iPod touch, iPod shuffle, BlackBerry, hape-hape jenis lain, duit, voucher belanja, paket dari produk yang bersangkutan, and masih banyak abis.

Gue bisa dibilang gigih banget buat dapetin hadiah-hadiah yang menakjubkan kayak iPad. Sayangnya gue gak pernah dapet tuh iPad.

#miris

Walaupun gue gak pernah dapet barang-barang borju itu, paling enggak gue pernah dapet hadiah-hadiah lain yang menurut gue lumayan, diantaranya duit 100 ribu, mp3 player, pulsa 150 ribu, baju mandi + dompet kecil Rexona , book of truths + sample kotex WOW, goodie bag + buku agenda + baju Greendsands, buavita2Go + tas + flashdisk 2GB, sama voucher belanja dari Post-it.

pengumuman pemenang kuis Greendsands
*bener2 niat sampe dandan kayak kunti*

pengumuman pemenang kuis Post-it
*maacim buat temen-temen yang bantuin!!*

pengumuman pemenang kuis Permen Tango
*ini hoki abis*

pengumuman pemenang kuis Technonature
*jadi orang yang paling terakhir submit foto.ehh malah menang*


SEMOGA NANTI GUE MENANG HADIAH BORJU! LET'S PUT AN AMEN!
AMEEEEEN!

Wednesday, August 17, 2011

I.    Visual Search
1. Apa itu pencarian feature? Apa itu pencarian conjunctive?
Pencarian feature adalah pencarian dengan karakteristik lingkungan sekitar yang berbeda dengan sesuatu yang ingin dicari. Feature pada eksperimen ini adalah adanya lingkaran hijau dan kotak biru pada tampilan satu layar. Sesuatu yang harus dicari adalah lingkaran hijau, karena karakteristiknya beda dengan kotak biru, maka pencarian akan lebih mudah untuk dilakukan.
Pencarian conjunctive adalah pencarian dengan karakteristik lingkungan sekitar yang memiliki ciri yang menyerupai sesuatu yang ingin dicari. Conjunctive pada eksperimen ini adalah ketika ada kotak hijau, lingkaran biru, dan lingkaran hijau. Oleh karena karakteristik lingkaran hijau hampir sama dengan karakteristik distractor, maka pencarian akan lebih sulit untuk dilakukan.

2. Mana yang lebih sukar buat Anda: mengalami pencarian feature atau pencarian conjuctive? Jelaskan jawaban Anda!

Bagi saya, pencarian conjunctive lebih sulit dilakukan. Hal ini terlihat dari data eksperimen saya baik dari data tabel maupun data grafik. Data tabel dan grafik menunjukkan bahwa waktu yang saya perlukan untuk melakukan pencarian conjunctive lebih lama daripada pencarian feature. Saya lebih mudah mengetahui ada atau tidaknya lingkaran hijau di sekitar kotak biru (pencarian feature) karena lingkaran hijau itu benar-benar mencolok daripada distractor yang ada di sekitarnya. Conjuntive absent dan feature absent saya lebih lama daripada conjunctive present dan feature present. Hal itu disebabkan karena present pasti menampilkan apa yang kita cari, sehingga jika kita sudah mendapatkannya, maka kita akan segera menjawabnya. Apabila absent maka kita benar-benar harus melihat semua gambar yang ada untuk menemukan lingkaran hijau. Jika lingkaran itu belum ditemukan, maka kita akan terus mencarinya sampai yakin bahwa lingkaran hijau itu tidak ada.

3. Buat Anda, bertambahnya jumlah stimulus pengalihan (distractors) biasanya akan memperlambat waktu reaksi dalam pencarian conjuctive atau pencarian feature? Jelaskan jawaban Anda!
Menurut saya semakin banyak distractor akan semakin memperlambat waktu reaksi saya dalam pencarian conjunctive dan feature. Data tabel dan grafik di atas juga menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah distractor, semakin lama pula saya melakukan pencarian. Hal ini terjadi karena saya benar-benar harus melihat secara seksama semua gambar yang ada di dalam layar untuk menentukan apakah lingkaran hijau itu ada atau tidak. Terlebih lagi untuk pencarian conjunctive saya harus teliti dengan bentuk dan warna yang hampir menyerupai bentuk lingkaran hijau. Semakin banyak distractor, maka peluang saya untuk melakukan kesalahan dalam mencari lingkaran hijau semakin besar.


4. Visual search adalah suatu proses yang kita gunakan beberapa kali dalam sehari. Sebut dan jelaskan 2 macam produk di mana penggunaan visual search akan berguna!
·     Pembalut Wanita
Kebanyakan pembalut wanita berkemasan sama baik antar merk atau antar produk di satu merk. Hal ini tentunya dapat membuat konsumen salah ketika mengambil produk yang diinginkannya. Jika ia ingin membeli pembalut merk Kotex untuk malam hari, maka konsumen bisa tertukar dengan kotex biasa. Contoh lainnya apabila membeli pembalut Charm dengan sayap, konsumen bisa tertukar dengan Charm tanpa sayap. Hal itu pernah terjadi pada saya. Walaupun ada bacaan yang menunjukkan bahwa itu adalah pembalut bersayap atau tidak, saya tetap tidak dapat membedakannya saat itu karena saya terburu-buru.
·     Larutan Penyegar
Larutan penyegar khususnya dalam kemasan botol memiliki bentuk yang mirip baik dari segi model botol ataupun gambar yang melapisi botol. Contohnya pada lasegar dan cap kaki tiga, keduanya memiliki bentuk yang mirip. Hal ini jelas dapat membuat konsumen salah untuk mengambil larutan penyegar yang diinginkannya.
5. Tuliskan refleksi pengalaman pribadi Anda dalam menjalani eksperimen ini!
Saya merasa deg-degan dalam melakukan eksperimen visual search karena eksperimen ini adalah eksperimen pertama yang saya lakukan. Pada awal-awal trial saya butuh melakukan penyesuaian terhadap tombol z (tidak ada lingkaran hijau) dan / (ada lingkaran hijau). Makin lama saya makin bisa menyesuaikan diri dengan tombol itu. Saat eksperimen pertama sudah setengah jalan, saya mulai terbiasa mencari lingkaran hijau. Akan tetapi semakin ke belakang, distractor yang muncul semakin banyak sehingga saya mulai bingung lagi. Semakin banyak jumlah distractor, konsentrasi dan kehati-hatian saya semakin meningkat.

II.   Stroop Effect
1. Perhatikan data Anda. Apakah Anda berproses lebih cepat pada percobaan-percobaan yang kongruen atau inkongruen? Apakah hal ini mengejutkan Anda? Mengapa?
Kongruen apabila warna dan tulisan menggambarkan hal yang sama, misalnya BLUE ditulis dalam warna biru. Sedangkan inkongruen apabila warna dan tulisan menggambarkan hal yang berbeda, misalnya BLUE tetapi ditulis dengan warna merah. Saya lebih cepat berproses pada percobaan inkongruen. Hal ini tentu mengejutkan saya karena menurut saya inkongruen lebih sulit daripada kongruen. Hal itu mungkin saja terjadi karena kecepatan saya untuk merespon setiap trial berbeda-beda tergantung dari kecepatan berpikir saya, tidak peduli itu kongruen atau inkongruen.

2. Penjelasan umum apa yang dapat diberikan untuk memahami mengapa orang biasanya lebih lamban dalam memberikan respons pada percobaan yang inkongruen daripada yang kongruen pada eksperimen ini?
Pada umumnya orang akan lebih lamban dalam merespons percobaan inkongruen karena pada percobaan ini dibutuhkan konsentrasi yang lebih untuk mencerna informasi yang diterima. Orang-orang biasanya merespon sesuatu dengan otomatis, dalam eksperimen ini orang merespon tulisan yang ditampilkan secara otomatis. Oleh karena itu orang tersebut perlu memfokuskan kembali pikirannya kepada warna dan bukan pada tulisan.

3. Strategi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi Stroop Effect yang dapat diamati dari eksperimen ini? Jelaskan jawaban Anda!
Kita benar-benar harus memusatkan perhatian pada informasi yang ditampilkan di layar. Strateginya pertama-tama harus mengatakan di dalam pikiran bahwa yang harus diperhatikan adalah warna, sehingga warna yang harus dilihat pertama kali bukan tulisan. Setelah itu akan terekam di otak kita bahwa warna adalah yang harus diperhatikan. Dengan ini, kita tidak akan secara otomatis menjawab red, green, atau blue sesuai dengan tulisan melainkan sesuai dengan warnanya.

4. Sebutkan 2 macam tugas yang otomatis dilakukan oleh kebanyakan orang! Jelaskan jawaban Anda!
ª   Menyapa
Apabila sesorang bertemu dengan kerabat dekatnya atau seseorang yang dikenal, hal otomatis yang dilakukan adalah menyapa kerabat tersebut. Hal tersebut terjadi karena kebanyakan orang sudah dibiasakan sejak kecil untuk menyapa orang. Lama-kelamaan kebiasaan itu akan menjadi sesuatu yang otomatis dilakukan.
ª   Menyalakan Lampu
Apabila seseorang merasa bahwa ruangan tempat ia mengerjakan sesuatu gelap, maka secara otomatis ia akan menyalakan lampu atau mencari penerangan. Hal ini dilakukan agar ruangan menjadi terang, sehingga ia dapat mengerjakan tugas dengan penyinaran yang lebih baik. Hal lainnya terjadi ketika malam sudah datang kebanyakan orang akan menyalakan lampu untuk menerangi sekitarnya. Hal ini terjadi di berbagai lokasi, seperti di rumah, kantor, kampus, rumah makan, rumah sakit, bahkan bis kota.
5. Tuliskan refleksi pengalaman pribadi Anda dalam menjalani eksperimen ini!
Supaya mencegah saya melakukan kesalahan dalam memencet tombol keyboard, maka saya mengganti tombol red menjadi r, green menjadi g, dan blue menjadi b. Pada awal trial saya tidak tahu bahwa yang harus diperhatikan adalah warna bukan tulisannya. Saya tidak mengetahuinya karena saya sibuk dengan kegiatan saya ketika mengganti keyword red, green, dan blue. Hal itu menyebabkan konsentrasi saya lebih berpusat pada penukaran keyword daripada mendengar instruksi. Oleh karena itu, pada awal-awal trial saya membutuhkan waktu yang lama untuk merespon. Saya berpikir dulu apakah yang dituju adalah warna atau tulisan. Dalam merespon beberapa trial saya butuh mencernanya lebih dalam baik yang kongruen maupun inkongruen.

III.   Serial Position
1. Apa yang dimaksud dengan primacy effect? Apakah data Anda menunjukkan hal ini?
2. Apa yang dimaksud dengan recency effect? Apakah data Anda menunjukkan hal ini?
Primacy effect merupakan kecenderungan seseorang untuk mengingat hal-hal yang berada pada posisi awal/depan. Sedangkan recency effect merupakan kecenderungan seseorang untuk mengingat hal-hal yang berada pada posisi akhir. Data saya lebih menunjukkan primacy effect daripada recency effect. Hal tersebut ditunjukkan oleh data yang saya peroleh dari eksperimen ini. Meskipun pada posisi pertama perentase kebenaran rendah, saya tetap menunjukkan primary effect. Data grafik menunjukkan rata-rata plot yang paling tinggi berada pada item yang ditampilkan pada setiap awal trial. Semakin ke belakang, gambar grafik menunjukkan penurunan kemudian mengalami kenaikan. Akan tetapi kenaikan grafik pada posisi 6 ke atas tidak lebih tinggi daripada posisi awal. Menurut data tabel dapat dilihat bahwa persentase kebenaran berada pada posisi ke kedua dan ketiga.

3. Suatu perusahaan teknologi baru membuka wawancara terbuka dari jam 8 pagi – 14 siang pada hari Jumat. Pekerjaan ini menarik minat Anda dan ingin memastikan bahwa Anda akan diingat oleh pewawancara Anda.
    Menarik pengalaman dari eksperimen ini, apa yang dapat Anda lakukan untuk memastikan Anda akan diingat oleh pewawancara tersebut? Jelaskan jawaban Anda!
Berdasarkan eksperimen ini, saya akan datang pada awal atau akhir jadwal wawancara. Hal tersebut saya lakukan karena hal yang cenderung diingat oleh kebanyakan orang adalah hal yang berada pada posisi awal dan posisi akhir. Saya datang pada awal jadwal wawancara karena pada pagi hari pikiran mereka masih segar untuk dapat mengingat saya yang mengikuti wawancara itu. Sedangkan saya datang pada akhir karena saya adalah orang terakhir yang diwawancara. Oleh karena itu saya akan lebih diingat oleh pewawancara. Saat saya diwawancara, saya juga harus membuat kesan baik khususnya pada awal dan akhir wawancara.

4. Profesi macam apa yang Anda ketahui akan memakai serial position untuk melaksanakan pekerjaannya tersebut? Uraikan untuk apa dan bagaimana mereka memakai serial position ini bagi setiap profesi yang Anda sebutkan!
Profesi yang menggunakan serial position adalah sekretaris. Salah satu tugas sekretaris adalah memoderator jalannya rapat. Pada awal rapat, sekretaris memberitahu kepada anggota rapat tentang agenda-agenda rapat yang akan dibahas. Pada akhir rapat, sekretaris juga membacakan hasil rapat yang telah dilakukan. Informasi-informasi mengenai isi rapat dapat diingat oleh peserta rapat karena menurut serial position, agenda rapat yang dibacakan di awal rapat dan hasil rapat yang dibacakan di akhir rapat akan cenderung diingat oleh para anggota rapat, termasuk sekretaris itu sendiri.

5. Tuliskan refleksi pengalaman pribadi Anda dalam menjalani eksperimen ini!
Sebelum memulai eksperimen hal yang pertama kali saya rasakan adalah panik. Saya panik karena khawatir tidak dapat menghapal semua huruf-huruf yang ditampilkan. Pada saat saya melakukan eksperimen ini saya memang merasa bahwa saya lebih hapal pada huruf-huruf awal daripada huruf di tengah atau di akhir trial. Agar saya lebih dapat menghapal huruf-huruf tersebut dengan lebih baik, saya membuat kalimat atau susunan kata dengan huruf-huruf yang muncul. Teknik tersebut disebut mnemonic. Akan tetapi kata dan kalimat itu tidak banyak membantu. Ketika saya menghapalkan mnemonic yang saya buat sendiri, saya justru melupakan huruf-huruf berikutnya di dalam satu trial atau bahkan saya melupakan huruf yang dimaksud dari mnemonic yang saya susun. Misalnya INHTYOAERV, saya membuat mnemonic ‘in hati you aer vanas’. Pada mnemonic ini saya juga sulit untuk menentukan yang mana sebenarnya huruf yang ditampilkan tadi apakah INHTYOUARV atau INHTYOAERV.

IV.  Memory Span
1. Pada stimulus apa/mana rentang ingatan (memory span) Anda yang paling panjang? Untuk yang paling pendek? Jelaskan jawaban Anda!
Memory span saya yang paling panjang ada pada numbers, letter that sounds different, dan letters that sound similar. Ketiga tipe itu mendapatkan skor yang sama, yaitu tujuh. Sementara yang paling pendek adalah long words yang bernilai tiga. Saya cenderung lebih dapat menghapal ketiga hal tersebut karena angka dan huruf lebih mudah untuk diingat dibandingkan dengan kata-kata. Saya sulit untuk menghapalkan kata-kata karena saya menghapalnya dengan mengingat huruf depan dari kata tersebut. Oleh karena itu saya menjadi bingung apabila kata berikutnya yang muncul berhuruf depan sama dengan yang sebelumnya (misalnya: bag, book).

2. Berdasarkan perkiraan Anda, berapa jumlah stimulus yang dapat disimpan dalam ingatan jangka pendek pada sebagian besar orang? Apa dasar perkiraan Anda?
Berdasarkan perkiraan saya sebagian besar orang dapat mengingat kira-kira 7 item dalam ingatan jangka pendeknya. Kemampuan mengingat orang-orang tentunya berbeda-beda, ada yang lebih rendah atau lebih tinggi dari tujuh. Jumlah stimulus yang dapat disimpan ini dapat berubah-ubah tergantung dari konsentrasi seseorang dalam mengingat suatu hal. Jumlah stimulus yang dapat disimpan dalam ingatan jangka pendek juga tergantung pada tingkat kesulitan stimulus. Dasar perkiraan saya yaitu berdasarkan hasil eksperimen yang saya dapat.



3. Secara umum, jika urutan stimulus terdiri dari kata-kata panjang maka rentang ingatan seseorang akan lebih pendek daripada kata-kata pendek. Jelaskan mengapa bisa demikian!
Hal tersebut dapat terjadi karena tingkat kesulitan stimulus tersebut termasuk tinggi jika dibandingkan dengan kata pendek, angka, maupun huruf. Dengan mengisi ingatan jangka pendek dengan kata-kata panjang, maka kapasitas mengingat dapat berkurang, daripada jika kita mengingat huruf atau angka.

4. Demikian juga jika urutan stimulus terdiri dari bunyi huruf yang serupa (“bila – sila – nila”, dirasakan dari posisi bibir ketika mengucapkan kata tersebut) maka rentang ingatannya akan lebih pendek daripada jika bunyi huruf tersebut beda. Jelaskan alasannya!
Hal itu disebabkan karena orang-orang cenderung salah dalam menghapal urutan kata-kata tersebut. Selain itu karena memiliki bunyi yang hampir sama dapat menyebabkan orang untuk melupakan salah satu atau beberapa kata dari kata yang serupa itu.

5. Tuliskan refleksi pengalaman pribadi Anda dalam menjalani eksperimen ini!
Apabila yang muncul adalah kata-kata yang pendek, saya masih santai karena bisa menghapalnya. Ketika yang muncul adalah kata-kata yang panjang, saya mulai panik. Untuk mensiasati eksperimen ini, saya menghapalkan kata-kata dengan huruf awalnya saja. Akan tetapi jika ada kata bag dan book, saya hanya menghapal katanya. Menurut saya, menghapal angka dan huruf lebih mudah daripada menghapal kata-kata, terlebih kata yang panjang.

V.   Brown-Peterson
1. Apakah fungsi tugas pengalih (distractor task) dalam paradigma Brown-Peterson ini?
Fungsi dari distractor task adalah adalah sebagai suatu pemecah konsentrasi seseorang dari hal awal yang ingin diingat. Distractor task di dalam eksperimen yang saya lakukan berupa kata-kata yang muncul secara bergantian. Saya diminta untuk menggolongkan kata-kata itu ke dalam Bahasa Inggris atau bukan. Apabila konsentrasi saya terpecah, maka saya tidak dapat mengingat dengan baik trigram (tiga susunan huruf) yang diberikan di awal pada setiap trial.


2. Pada durasi pengalih mana hasil Anda paling baik? Pada durasi pengalih mana hasil Anda paling jelek? Jelaskan jawaban Anda!
Berdasarkan hasil yang saya peroleh dari eksperimen ini, saya mendapatkan hasil yang baik pada setiap durasi. Hal tersebut ditunjukkan oleh persentase yang ditunjukkan oleh grafik dan tabel hasil eksperimen. Pada grafik terlihat bahwa semua letak plot yang menunjukkan persentase kebenaran setiap durasi distractor, berada di posisi atas. Pada tabel persentase kebenaran dalam melakukan recall trigram bernilai 100 persen pada durasi 1 detik, 11 detik, maupun 21 detik. Dari hasil ini saya dapat menyimpulkan bahwa konsentrasi saya tidak terganggu atau terpecah karena keberadaan word dan non-word yang merupakan distractor. Konsentrasi saya juga tidak terpengaruh dengan lamanya distractor muncul. Oleh karena konsentrasi saya tidak terganggu, maka saya dapat mengingat dengan baik trigram yang disajikan di setiap awal trial dan melakukan recall.

3. Menggunakan pengertian Anda tentang data Brown-Peterson ini, lingkungan seperti apa yang dapat sarankan bagi seseorang yang ingin mempelajari suatu materi yang baru?
Pengertian saya tentang data Brown-Peterson yang sebenarnya ingin disampaikan adalah adanya pengaruh distractor terhadap konsentrasi dan ketepatan mengingat. Oleh karena itu dalam mempelajari suatu materi diusahakan agar tidak belajar di dalam suasana dan lingkungan yang ramai atau mengganggu pikiran dan konsentrasinya. Jika hal lain mengganggu konsentrasinya, maka kemampuan mengingatnya juga akan terganggu. Terlebih lagi untuk orang-orang yang mempelajari suatu materi yang baru. Materi baru akan lebih sulit untuk diingat jika kita berada di lingkungan yang penuh dengan distractor. Biasanya fokus akan lebih mudah terpecah-pecah jika terdapat banyak distractor di sekitar orang yang sedang belajar. Hal tersebut saya sarankan agar materi baru itu dapat dengan mudah masuk ke short term memory. Dengan begitu memori yang telah tersimpan di short term akan dapat lebih mudah masuk ke long term memory, terlebih ketika orang tersebut mengulang materi yang dipelajari.

4. Apakah Anda mengenal seseorang yang suka belajar dengan latar belakang radio/TV yang sedang menggelar suatu acara?
Berdasarkan eksperimen yang telah Anda jalani, bagaimana pendapat Anda tentang cara belajar yang demikian? Jelaskan jawaban Anda!
Saya memiliki beberapa teman yang suka belajar sambil mendengarkan musik. Belajar dengan cara ini tentunya tidak efektif. Berdasarkan eksperimen ini, cara belajar dengan mendengarkan musik dapat mengganggu konsentrasi dan memecah fokus belajar. Bisa saja orang yang belajar dengan cara ini lebih terkonsentrasi terhadap lagu dan bukan kepada pelajaran yang sedang ia pelajari. Hal ini sering terjadi pada saya. Ketika saya sedang belajar dengan mendengarkan musik, saya akan lebih terfokus kepada musik yang saya dengarkan, sehingga saya menjadi lebih sering menyanyi daripada menghapal materi yang sedang saya pelajari. Oleh karena pikiran tidak terkonsentrasi, maka akan sulit untuk mengingat pelajaran. Akan tetapi bagi beberapa orang, musik dan acara televisi bukan merupakan suatu distractor baginya ketika mereka sedang belajar, tetapi menjadi penambah konsentrasi mereka ketika belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi orang berbeda-beda tergantung pribadinya masing-masing.

5. Tuliskan refleksi pengalaman pribadi Anda dalam menjalani eksperimen ini!
Hal pertama yang saya lakukan adalah mengubah tombol word dan non-word yang semula j dan f menjadi z dan /. Saya mengubah tombol agar konsentrasi saya dapat lebih terjaga dengan menggunakan tombol yang nyaman. Saya juga merasa khawatir terhadap eksperimen Brown-Peterson ini karena Marlin mengatakan bahwa pernah ada mahasiswa yang mengerjakannya hingga dua jam. Saya takut selesai lebih lama dari teman-teman saya yang lain. Akan tetapi ketakutan itu tidak membuat konsentrasi saya berkurang, justru konsentrasi saya meningkat karena berpikir bahwa saya tidak boleh salah dalam menggolongkan word dan non-word serta dalam melakukan recall pada trigram. Saya juga mengalami kebingungan ketika hasil yang didapat di beberapa trial adalah incorrect. Ternyata word dan non-word harus benar juga. Saya juga mengalami kebingungan terhadap beberapa word dan non-word, apakah kata-kata itu merupakan Bahasa Inggris atau bukan, seperti tepid dan petid. Kedua kata itu tidak pernah saya dengar, maka beberapa kali saya mengalami hasil incorrect di beberapa trial.

VI.  Change Detection
1. Menurut Anda, apa efek dari ‘flicker’ terhadap attention seseorang?
Menurut saya efek flicker adalah sebagai pengalih attention seseorang dan membuat attention menjadi kurang terfokus. Flicker pada eksperimen ini ditampilkan dalam bentuk cahaya abu-abu yang muncul di tengah-tengah gambar satu dan gambar dua. Cahaya abu-abu ini membuat saya menjadi lebih lama untuk memperhatikan gambar yang ditampilkan dan mencari perbedaannya.

2. Mana yang lebih sulit bagi Anda: perubahan gambar dengan atau tanpa ‘flicker’?
Apakah data hasil Anda mendukung pendapat Anda? Jelaskan!
Bagi saya perubahan gambar dengan flicker adalah yang lebih sulit. Flicker membuat attention saya menjadi terganggu. Hal ini didukung oleh data yang saya peroleh dari eksperimen. Tabel di samping menunjukkan bahwa proporsi benar dalam menganalisa gambar lebih tinggi pada gambar yang tidak disertai flicker. Oleh karena perubahan gambar dengan flicker lebih sulit, maka waktu saya untuk menyelesaikan trial dengan flicker lebih lama daripada tanpa flicker. Rata-rata waktu yang saya butuhkan merespon perubahan gambar dengan flicker adalah 8528 miliseconds. Sedangkan rata-rata waktu untuk merespon perubahan gambar tanpa flicker adalah 5716 miliseconds.

3. Apa perbedaan mekanisme pencarian (search strategy) pada kondisi flicker dan no-flicker? Jelaskan jawaban Anda!
Mekanisme pencarian pada kondisi no-flicker akan lebih mudah dibandingkan dengan kondisi flicker. Strategi pencarian pada flicker akan lebih ketat daripada no-flicker. Pada kondisi flicker perbedaan antara gambar satu dengan gambar dua akan lebih sulit karena adanya cahaya abu-abu (flicker) pada pergantian gambar satu dan dua. Sehingga pada eksperimen ini, saya mencari perbedaan pada kondisi flicker dengan lebih seksama. Saya juga lebih menyebarkan perhatian ke segala arah pada kondisi flicker. Pada kondisi no-flicker perbedaan lebih terlihat karena tidak ada sesuatu yang membatasi gambar satu dengan gambar dua. Hal itu membuat saya tidak perlu terlalu lama untuk mencari perbedaan. Saya juga tidak terlalu menyebarkan perhatian ke segala arah seperti yang saya lakukan pada kondisi flicker.

4. Tuliskan 1 pengalaman keseharian Anda dengan ‘flicker’ ini. Jelaskan dampak dari ‘flicker’ tersebut!
Ketika di kelas dan saya sedang memperhatikan dosen yang sedang mengajar. Tiba-tiba handphone saya bergetar. Dari situ saya tahu bahwa ada SMS yang masuk. Saya membuka, membaca, dan membalas SMS itu. Setelah saya selesai membalas SMS, saya kemudian kembali memperhatikan dosen. Dalam kasus ini SMS adalah flicker bagi saya. Dampak dari adanya flicker tersebut, yaitu saya menjadi tidak tahu sudah sampai di mana pembicaraan dosen. Perhatian saya menjadi terganggu oleh keberadaan flicker ini, sehingga saya sulit untuk memusatkan kembali pikiran saya ke pembicaraan dosen. Saya harus lebih mengkonsentrasikan pikiran saya dan menghubungkan pembicaraan dosen sebelum dan sesudah flicker itu muncul.

5. Tuliskan refleksi pengalaman pribadi Anda dalam menjalani eksperimen ini!
Menurut saya eksperimen ini merupakan eksperimen yang paling menyenangkan karena berupa gambar yang menarik. Saya juga sering memainkan permainan seperti ini ketika kecil, tetapi tanpa flicker. Di dalam eksperimen ini saya tetap membutuhkan konsentrasi untuk membedakan gambar dan tidak memalingkan penglihatan dari layar komputer. Saya juga menyebarkan penglihatan ke segala arah untuk melihat ada perbedaan atau tidak, terutama pada gambar yang disertai flicker. Attention saya menjadi sedikit terganggu dengan adanya flicker. Oleh karena adanya flicker, saya sampai mengedipkan mata dan membesarkan mata saya agar perbedaan dapat saya temukan. Tentunya saya lebih menyukai gambar tanpa flicker karena membuat saya menjadi lebih terfokus serta attention saya tidak terganggu, sehingga dapat mencari perbedaan gambar dengan tepat.

Wednesday, August 10, 2011

Dari TK sampe SMA gue lebih suka sama masa-masa SMA. Masa SMA itu adalah masa-masa jaya gue. Gue terdampar di Yogya buat menempuh masa SMA. SMA Stella Duce 1 namanya. Gara-gara sekolah di luar kota dan jauh dari orangtua, gue masuk asrama. Awalnya kebayang asrama yang serem kayak di FTV ato film-film. Kalo asramanya serem, die aje deh. Gak kebayang kalo harus dikerangkeng di asrama selama 3 tahun bareng hantu-hantunya. Setelah beberapa waktu gue tinggal di asrama, gue baru tau kalo asrama gue bener-bener ada penunggunya. Sebetulnya semua tempat juga ada penunggunya. Di rumah lo juga pasti ada dan mungkin sekarang mereka lagi di belakang lo sambil bengong ngeliatin lo browsing melulu.
Asrama gue punya twitter sama facebook. Gahol bener dah asrama gue hahaha.


Gue punya temen-temen gila, ajaib, dan angker yang gue dapet dari Asrama Supadi ini.










Mereka adalah

Emilia Astrid Laksita Dewi


Maria Yosephine Gyang Prakasita

Agnes Kenya Winanti Prabowo

Bernadeth Edvina Kristi


Sunita Bhagchandani


Maria Adriana Ahi


Florentia Anindita Apsari Isthika


Dorothea Priska Winda Domlay


Miria Pradita

Retno Wisnu


Abis kita lulus SMA, kita semua pada mencar-mencar, tapi ada juga yang masih stay di Jogja. Ada yang di Sanata Dharma, UNIKA Atmajaya Jakarta, Atmajaya Yogyakarta, STP Bandung, Prasetiya Mulya, ITB, dan UNDIP

Thursday, July 14, 2011

Kemaren gue nonton Trans TV acara Bingkai Berita. Waktu itu Bingkai Berita ngebahas tentang orang-orang yang punya keterbatasan fisik. Mereka bener-bener patut diacungin jempol 4 soalnya mereka gak pasrah sama keadaan! Ada nih salah satu orang yang dibahas di acara itu, tapi gue lupa namanya. Beliau tunanetra. Kebanyakan orang tunanetra bekerja sebagai pemijat, tapi bapak yang satu ini jadi penjual kerupuk yang berkeliling di jalan-jalan. Tunanetra gitu loh! Kalo orang biasa sih maklum, nah ini tunanetra yang jualan kerupuk keliling. Beliau berani banget ngambil resiko buat mencukupi kebutuhan hidup beliau. Kesan pertama yang muncul di kepala gue adalah HEBAT! Salut banget sama bapak ini. Gue salut karena dia gak minta-minta di jalanan. Beliau masih punya usaha yang gigih buat nyari rejeki.
Kebanyakan orang gampang nyerah waktu mereka tahu kalau mereka punya kekurangan. Enggak osah jauh-jauh, gue atau lo mungkin aja kayak gitu. Harusnya kita bisa belajar dari hal-hal kayak gini buat gak menyerah begitu aja dengan kekurangan yang kita miliki. Justru kita harus membuat kekurangan itu menjadi sebuah kelebihan, tentunya dengan cara lo masing-masing.
"Jadikan kelemahanmu sebagai kelebihanmu, dengan caramu sendiri"

photo :  http://citrussourorange.tumblr.com/  *my tumblr #promosi*