We Can Make A Change
Kalian tau penyanyi yang namanya Whitney Houston? Itu loh
yang nyanyi I Will Always Love You. Whitney termasuk salah satu penyanyi
terkenal di dunia. Ia baru saja meninggal pada hari Sabtu waktu setempat atau
hari Minggu, 12 Februari 2012) waktu Indonesia. Di note ini saya nggak mau
menceritakan penyebab mengapa sang diva ini meninggal dunia. Di sini saya hanya
ingin berbagi kenyataan bahwa kematian Whitney benar-benar membuat dunia
menangis. Semua televisi, radio, majalah, surat kabar, berita online, dan
lainnya turut menyajikan informasi mengenai kematian diva ini. Saya melihat di
televisi memang banyak sekali pihak-pihak yang turut merasa sedih, termasuk
orang-orang Indonesia. Sampai-sampai berita mengenai kematian Whitney menjadi
trending topic di twitter. Sebenernya tidak masalah jika semua orang menunjukkan
rasa simpatinya kepada kematian Whitney. Akan tetapi yang menjadi masalah
sekarang adalah adanya perbedaan kesedihan atas kepergian Whitney dan atas
kepergian saudara-saudara kita di belahan dunia lain, yaitu di Afrika.
Di Afrika banyak sekali saudara-saudara kita yang mati
karena kekurangan makanan. Badan mereka kurus kering hingga tulangnya tampak
jelas dibalik balutan kulitnya yang tipis dan rapuh itu. Memang ada pihak-pihak
yang membantu mereka, tetapi hanya segelintir saja yang membantu. Berita tentang
kelaparan yang menyebabkan kematian rakyat Afrika juga jarang ditampilkan. Hal
ini membuat suatu perumpamaan yang ditampilkan pada gambar di dalam notes ini:
"Satu orang mati (Whitney), 100 juta orang bersedih. 100 juta mati, tidak
ada yang bersedih" Menurutku mengenaskan sih pernyataan itu.
Hal seperti itu juga terjadi di negeri kita sendiri. Banyak
orang miskin dan terlantar yang akhirnya tidak dapat mempertahankan hidup, baik
karena sakit ataupun karena hal lainnya. Bagaimana peran pemerintah? Katanya orang
miskin dan terlantar dipelihara negara? Ya, katanya sih begitu, tapi kok yang
saya lihat masih banyak orang-orang terlantar di jalanan ya? Bahkan menurut
pengalaman kenalan saya, Kak Apri, ia pernah melihat kakek yang benar-benar
terlantar, sampai-sampai kotoran tubuhnya sendiri tercecer di dekat tubuhnya.
Saat Kak Apri menemukannya, kakek tersebut sudah dalam keadaan tidak berdaya.
Sayangnya saat dibawa ke rumah sakit, nyawa kakek tersebut tidak terselamatkan.
Kalau dipikir-pikir hebat sekali Kak Apri mau membantu sesamanya yang sudah
dalam kondisi kotor dan bau. Nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila,
khususnya sila kedua benar-benar tergambar dari diri Kak Apri. Tapi pertanyaan
saya, di mana rasa kemanusiaan orang-orang yang ada di sekitar kakek tersebut?
Mengapa hanya Kak Apri yang berani untuk membantu kakek tersebut? Padahal kakek tersebut terbaring lemah di
jalanan dekat pasar, pastinya banyak orang yang lalu lalang di tempat itu. Yah,
ini mungkin salah satu tandanya bahwa nilai kemanusiaan di Indonesia sudah
mulai luntur. Nah, teman-temin, kita sama-sama manusia, kita sama-sama makhluk
ciptaan Tuhan, hendaknya kita bisa lebih membuka diri untuk menolong sesama
kita. Sebagai mahasiswa, mulailah dari hal kecil seperti membantu teman yang
kesulitan dalam pelajaran tertentu, menolong nenek-nenek yang ingin menyebrang
jalan atau ingin naik bus, mengikuti kegiatan sosial di kampus. Nah kalau anak
muda mulai bisa melestarikan nilai-nilai Pancasila kembali, saya yakin, nanti
ke depannya Indonesia akan lebih baik lagi!
Hidup Indonesia! ♥


0 comments:
Post a Comment